Saturday, January 17, 2009
Ali Topan Wartawan Jalanan (4)
Ali Topan, Ali Topan, gumamnya sambil berjalan santai. Di dalam benaknya terbayang sosok anak muda itu. Untuk anak muda generasi sekarang pun, ia termasuk tinggi. Sekitar 175 centi, atau lebih, kata hatinya. Tinggi semampai, tapi tidak loyo. Kurus berisi. Gerakannya tak terduga, cepat. Si baret merah membayangkan adegan Ali Topan mencengkeram Cina di toko yang kebetulan disaksikannya.
Adegan tersebut mempesona dirinya. Dan, entah apanya, yang pasti ada sesuatu di dalam diri anak muda itu yang menarik perhatiannya. Matanya? Mata anak itu cemerlang, tapi bersinar sedih. Bahkan pada saat beringas tadi, kesedihan tetap melekat di mata itu. Itu mata khas milik orang-orang yang berpikir cepat dan tajam. Lembutnya, atau sinar sedihnya, mungkin refleksi dari gejolak batinnya. Garis-garis tajam dari hidung dan dagunya, membedakan anak itu dari seorang sentimentil yang cengeng.
Banyak anak-anak muda sekarang yang tampan, tapi jarang yang mengesankan kejantanan. Dia sudah banyak melihat dan bergaul dengan anak-anak muda tapi yang satu ini berbeda sekali. Kebanyakan anak-anak sekarang ganjen seperti perempuan. Ah! Ah! Si baret merah tersenyum sinis sendiri.
la sampai di bawah Kebayoran Teater yang terletak di bagian belakang komplek Pasar Melawai. Dua anak lelaki muda lewat di depannya, dari seberang jalan. Mereka berpakaian rapi, cakep-cakep, saling berangkulan dan tertawa genit seperti perempuan. Si baret merah bersuit keras. Dua anak muda itu berhenti serentak, menengok ke arahnya. Keduanya mengerjap-kerjapkan mata dan mulut mereka manyun-manyun, lantas... serentak pula mereka berjalan, menggoyangkan pantat seperti peragawan.
Si baret merah meludah ke aspal jalanan, mual melihat bencong-bencong itu. la batuk-batuk kecil, lalu bergerak lagi, menyeberang jalan, lewat toko jeans, ia menuju Taman Plaza yang kalau malam jadi pasar kaget yang terletak di sisi selatan terminal Blok M, di luar komplek pasar Melawai.
Penjual kaki lima berteriak-teriak menjajakan dagangan mereka. Kaos oblong, handuk, sandal jepit, gesper sampai batu akik. Teriakan mereka beradu keras dengan lagu-lagu pop yang diputar oleh para penjual kaset obe.
Si baret merah berjalan melewati Taman Christina Martha Tiahahu di ujung terminal, ke arah Garden Hall. Di seberang terminal matanya melihat banyak orang,pikirannya tersimpul pada bayangan Ali Topan. Gue mesti dapet itu anak. Gue mesti dapet, gumamnya. Bayangan wajah anak muda itu tak hilang-hilang dari pikirannya.
"Oom, rokoknya Oom....," seorang bocah pengecer rokok lewat di sampingnya. "Masih ada rokok gua," kata si baret merah. Bocah itu pergi sambil cemberut.
Si baret merah tiba-tiba merasa jarinya panas. Ternyata rokoknya sudah pendek sekali. Apinya memanasi jari. Segera dia jatuhkan, lalu melumatkan puntung rokok itu di alas sepatunya.
Menyeberangi jalan raya, ia masuk ke halaman Garden Hall Teater. Sebuah warung nasi Tegal di pinggir jalan, di belakang bioskop itu merupakan tempat yang ditujunya. Warung itu tempat Tekhab dan sopir-sopir President Taxi dan beberapa seniman Bulungan mangkal.
Matahari mencorong di atas. Peluh membasahi wajahnya. Tapi orang berbaret merah itu tampak gembira. Mulutnya menyiulkan lagu tema film Mannix. la bernama Robert Oui, bekas polisi yang kini merintis usaha sendiri di bidang penyidikan partikelir alias detektif swasta.
FIQIH WUDHU BAB WUDHU
Oleh
Syaikh Abdul Aziz Muhammad As-Salman
Pertanyaan.
Apakah wudhu itu ? Apa dalil yang menunjukkan wajibnya wudhu ? Dan apa (serta berapa macam) yang mewajibkan wudhu ?
Jawaban
Yang dimaksud wudhu adalah menggunakan air yang suci dan mensucikan dengan cara yang khusus di empat anggota badan yaitu, wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki. Adapun sebab yang mewajibkan wudhu adalah hadats, yaitu apa saja yang mewajibkan wudhu atau mandi [terbagi menjadi dua macam, (hadats besar) yaitu segala yang mewajibkan mandi dan (hadats kecil) yaitu semua yang mewajibkan wudhu]. Adapun dalil wajibnya wudhu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” [Al-Maidah : 6]
Pertanyaan.
Apa dalil yang mewajibkan membaca basmalah dalam berwudhu dan gugur kewajiban tersebut kalau lupa atau tidak tahu ?
Jawaban
Dalil yang mewajibkan membaca basmalah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.
“Artinya : Tidak sah shalat bagi orang yang tidak berwudhu dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut nama Allah atas wudhunya” [1]
Adapun dalil gugurnya kewajiban mengucapkan basmalah kalau lupa atau tidak tahu adalah hadits.
“Artinya : Dimaafkan untuk umatku, kesalahan dan kelupaan”.
Tempatnya adalah di lisan dengan mengucapkan bisamillah.
Pertanyaan.
Apa sajakah syarat-syarat wudhu itu ?
Jawaban
Syarat-syarat (sahnya) wudhu adalah sebagai berikut.
1). Islam,
2). Berakal,
3). Tamyiz,
4). Niat,
5).Istishhab hukum niat,
6). Tidak adanya yang mewajibkan wudhu,
7). Istinja dan Istijmar sebelumnya (bila setelah buang hajat),
8). Air yang thahur (suci lagi mensucikan),
9). Air yang mubah (bukan hasil curian misalnya),
10). Menghilangkan sesuatu yang menghalangi air meresap dalam pori-pori.
Pertanyaan.
Ada berapakah fardhu (rukun) wudhu itu ? Dan apa saja ?
Jawaban
Fardhu (rukun) wudhu ada 6 (enam), yaitu :
1). Membasuh muka (termasuk berkumur dan memasukkan sebagian air ke dalam hidung lalu dikeluarkan),
2). Membasuh kedua tangan sampai kedua siku,
3). Mengusap (menyapu) seluruh kepala (termasuk mngusap kedua daun telinga),
4). Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki,
5). Tertib (berurutan).
6). Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain).
[Disalin dari kitab Al-As’ilah wa Ajwibah Al-Fiqhiyyah Al-Maqrunah bi Al-Adillah Asy-Syar’iyyah jilid I, Disalin ulang dari Majalah Fatawa 07/I/1424H -2003M]
Wednesday, January 7, 2009
JANGAN TAKUT KULIAH di UI
Jaket_kuning
Bismillahirrohmanirrohim….
Assalamu’alaikum Wr Wb….
Demi Rabb yang jiwaku dalam genggaman-Nya….
Saya mohon……
Tolong disebarkan…….!!!!!
Jangan pernah takut masuk UI !!!
Itulah hal yang selalu ingin saya camkan ke benak para putra-putri bangsa yang merasa dirinya minder alias kurang Pe De untuk masuk ke Universitas Indonesia karena keterbatasan ekonomi…..
UI itu kampus rakyat, adikku…..
Dari anak guru di banda aceh,
Bocah kuli tambang di Belitong,
Penjual pisang goreng di bengkulu,
Putra kuli bangunan di Jakarta,
Putri petani di brebes,
Remaja Nelayan di pesisir papua,
Atau bahkan seorang yatim-piatu di Makasar,
Hingga seorang anak tunggal dari presiden direktur Astra Honda Motor…
SEMUA berHak masuk UI !!!!!!!
Modalnya Cuma satu !!
Setelah mengantongi ijazah SMA, MA atau SMK.
Kamu harus lulus SNMPTN, dan UMB bulan juni ini !!!!
“Ah, untuk nyari makan aja orangtua ngos-ngosan… Gimana mau biayain kuLiah ???”
Aku tahu, mungkin itu yang ada dalam benakmu sekarang….
Tapi skarang saya balik tanya pada dirimu, apabila kamu sudah lulus SNMPTN di UI, dan telah datang hari dimana kamu harus daftar ulang di kampus UI depok, dan kamu tak membawa uang sepeserpun, Apakah KAMU akan diusir begitu saja dari tempat pendaftaran????
Jawabnya adalah tidak……
Kamu mempunyai modaL SK Rektor yang berbunyi bahwa tidak ada satupun mahasiswa yang KELUAR karena masalah faktor BIAYA !!!!!
Jangan terlalu terpengaruh dengan MEDIA yang mengatakan bahwa UI itu mahal !!!!
Karena para penentu kebijakan di atas sana (rektorat), itu mengetahui bahwa walaupun uang semesteran dinaikan 2 kali, 5 kali, 10 kali lipat pun, mahasiswa yang ingin masuk UI tetap saja banyak !!!!!
Alhasil, jadilah UI kampus yang bernuansa borjuis. . . .
Aku beri data yang valid yah…
(ya Allah, tolonglah hambaMU ini, agar Rektorat tidak men-DO saya karena membocorkan informasi ini…..)
Contohnya Fakultas TEKNIK (fakultas dimana saya kuliah sekarang….)
43 % Calon mahasiswa FT angkatan 2007 tidak benar-benar membayar Uang pangkal sebesar 25 juta !!!!!!
Dan saya ingin angka persentase ini dipertahankan atau bahkan harus cenderung naik !!!
43% mahasiswa ini hanya membayar dengan variasi angka yang beraneka ragam….
Dari nol (alias tidak membayar UP sama sekali), beberapa ratus ribu, beberapa juta, hingga sampai mendekati angka tertinggi (25 juta)……
Tergantung dari kesanggupan ekonomi kalian…..
Sedangkan 57 % sisanya adalah anak-anak yang patut mensyukuri hidup, karena mereka dilahirkan dari latar belakang keluarga yang berkecukupan…..
Pada saat pendaftaran ulang, kalian akan dibantu kakak2 kalian dari kesma (kesejahteraan mahasiswa) BEM UI, untuk masalah pengadvokasian Uang pangkal ini…….
Jadi, sok atuh…
Datanglah beramai2 ke UI tanpa perlu masalah finansial menghalangi…..
Raihlah cita2mu adik-ku…..
Ambilah hak kalian untuk belajar di kampus yang menyandang nama negara kita ini…..
“Oke…, stelah saya di terima di UI, bagaimana saya menyambung hidup ? Duit tidak punya, apalagi UI itu ada di Jakarta, jauh dari kampug…..”
HIDUP itu Perjuangan, Bung !!!!
Kamu bisa kuliah sambil kerja !!!!!!
Bisa kerja sambilan sebagai guru privat, jualan nasi uduk, bisnis pulsa, dagang gorengan, supir taksi, dan masiiih banyak lagi……. Ini adalah proses pendewasaan kamu….. Kamu itu tidak sendirian dalam mengarungi hidup !!!
Insya Allah kalau kamu memenejemen waktu kamu, kuliah kamu ga bakal keteteran dengan adanya kerja sambilan ini….
Di jakarta ini banyak sekali ko peluang usaha dan perkerjaan sambilan yang terbuka buat kamu…..
Simpanlah dalam hatimu….
La tahzan !!
Innalaha ma’ana….
(jangan bersedih karena Allah bersamaku….)
Oiya, mengenai uang semesteran (baik yg dapat 100ribu s/d 7.5 juta tergantung keadaan ekonomi) saya sudah bilang blom, klo di UI itu ada banyak Beasiswa…..
Contohnya di Fakultas teknik ituh ada beasiswa
- Eka tjipta Foundation
- Mata Air Biru
- Goodwill Internasional
- Beasiswa Cendikia (AMIL ZIS UI)
- Sampoerna Foudation
- Qatar Internasional
- Beasiswa Indosat
- PPA dan BBM
- Supersemar
- Beastudi etos (dompet dhuafa)
- KS4
- Beasiswa Djarum
- Co Op
- Tanoto Foudation
- Beasiswa Cocacola
- Total E P
- Beasiswa Bank Mayapada
- Dan masi Banyak lagi deeeh, ini pun baru cuma dikit…..
- Saya ga hapal, karena saya tidak bisa dibilang ‘scholarship seeker’ di kampus.
- Jumlah kuotanya bisa mencapai ribuan mahasiswa dan tawaran selalu berdatangan dan terbuka sewaktu kita menjalani kehidupan kemahasiswaan…
Pernah saya denger dari temen saya di Fakultas Hukum, kalau pegawai di bidang mahalum pernah menangis gara-gara mahasiswa yang melamar beasiswa lebih sedikit daripada kuota banyaknya beasiswa…….
Udah tajir (kaya raya) semua kali mahasiswa di Fakultas itu,…. gak tau dah !
Jadi, sekarang semua saya serahkan kepadamu adik-ku…..
Beranikah kamu, untuk merubah hidupmu ???
Demi ayah, bunda, kakak2, dan adik2mu…..
Demi Semua warga di kampungmu…
Demi semua orang2 yang kamu cintai……
Jikalau Allah telah memberimu kecerdasan otak yang gemilang, sehingga kamu bisa melanjutkan belajar di jenjang yang lebih tinggi…..
Kenapa kau harus takut ???
Pendidikan memang mahal. Kalau berdasarkan statistik biaya rata-rata kuliah di UI, memang lebih mahal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jadi kalau ada yang bilang bahwa biaya kuliah di Universitas Indonesia menjadi lebih mahal, ITU TIDAK SALAH.
Tentang uang kuliah yang makin mahal, ya itu sih memang sebuah kebijakan yang kontroversial dari UI yang kurang kreatif. Padahal kalau dilihat UI memiliki banyak potensi yang belum dikembangkan, ketimbang meningkatkan beban pembiayaan kepada mahasiswa.
Yang salah adalah menunda keinginan dan membatalkan keinginan masuk UI karena faktor biaya saja. Memang ada orang yang bisa kuliah dengan faktor finansial yang kurang mendukung. Saya sendiri punya banyak teman yang kuliah dengan finansial kurang mendukung.
Memang pemberitaan media yang gencar membuat persepsi di masyarakat, apalagi masyarakat yang tidak memperoleh informasi secara utuh.
Saya menceritakan pengalaman sendiri tentang uang kuliah. Selama 4 tahun kuliah, ini biaya yang saya bayar :
Semester 1 : Rp 2 juta (SPP+DKFM+DPP)
Semester 2 : Rp 500 rb (SPP+DKFM)
Semester 3 : Rp 500 rb (SPP+DKFM)
Semester 4 : Rp 600 rb (SPP+DKFM)
Semester 5 : Rp 600 rb (SPP+DKFM)
Semester 6 : Rp 1 jt (SPP+DKFM)
Semester 7 : Rp 25rb (DKFM)
Semester 8 : Rp 25rb (DKFM)
Semester 9 dan semester 10 : Cuma bayar RP 25rb (DKFM) / semester jika saya tidak selesai di semester ke-8. Tapi karena studinya sudah selesai hingga semester 8, maka tidak ada smt 9 dan smt 10.
Sebenarnya kunci utama adalah ‘mindset’ untuk berubah. Jika melihat dari kategori finansial keluarga saya memang tidak mendukung untuk kuliah di UI. Modalnya ‘nekat’ saja. Berusaha dan berdoa. Sejak saat itu, selalu ada saja jalan keluar dari setiap kesulitan. Entah bisa dapat uang dari beasiswa, atau dari tulisan-tulisan, atau sering dapat undangan makan gratis (hehehe) atau dapat tempat tinggal gratis selama dua tahun dan lain-lain. Rezeki memang selalu ada jalannya, jika mau berusaha.
Selamat berjuang!
-arip muttaqien-
Alumni Universitas Indonesia
Jangan pernah terpengaruh info yang bilang “biaya kuliah di UI mahal”.
soalnya mereka cuma ngasi nfo setenga-setengah. versi lengkapnya, “biaya kuliah di UI mahal (koma) bagi mereka yang memiliki duit banyak”.
Jangan pernah takut masuk UI.
seperti tulisannya “Jaket_Kuning”,
di UI ada banyak sekali advokasi dan beasiswa untuk mahasiswa yang tidak mampu memenuhi kewajiban finansial. Dan perlu dicamkan dalam hati bahwa advokasi dan beasiswa ini dapat diperoleh dengan sangat gampang!
Untuk yang suka menyebarkan info mahalnya biaya kuliah di UI:
Tolong jangan mencari-cari popularitas dengan menyebarkan info yang setengah-setengah karena perbuatan anda sedang menghalangi banyak calon mahasiswa yang penghasilan orangtuanya pas-pasan harus memendam cita-citanya. Perbuatan anda yang tidak bertanggungjawab itu sedang mendirikan benteng psikologis yang sangat kokoh bagi mereka untuk masuk UI.
Kalau anda memang peduli dengan mereka-mereka yang berpenghasilan rendah serta ingin banyak mahasiswa dari latar belakang ekonomi lemah masuk UI maka berhentilah mencari sensasi tetapi sebarkanlah info yang benar.
Bantulah mereka dengan turut menyebarkan info yang benar seperti yang telah dilakukan oleh “Jaket_kuning”.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Masyarakat Indonesia!
Gregorius
Contact
=======
BEM UI (021-78849053)
Dodi kesma BEM UI (085694924032)
Ramones FMIPA (085210221221)
Agung farhan FH (081380454539)
Dadan FISIP (08567293997)
Ahmed FT (02192924397)
Tania FK (08176001471)
Fajar F. Psiko (08128991024)
Noneng FIB (085693086683)
Al Kautsar FE (08159726681)
Amir FKM (081546222775), amir50@ui.edu atau aming1712@yahoo.com
Rahmat FKG (081807992843)
Lia Sadita Fasilkom (081315055722)
Suci FIK (081317743942)
Monday, January 5, 2009
KONSEP JIHAD
(Oleh : Ust. Abdullah Assegaf)
Tidaklah Mu’awiyah itu lebih mahir dariku (dalam bersiyasah), akan tetapi ia melakasanakan kejahatan dan tipu daya.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
BERKATA ibn Abi Hadid dalam syarh-nya sehubungan dengan perkataan Amirul Mukminin Ali bin Thalib, “Ketahuilah bahwa kaum yang tidak mengenali keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib beranggapan bahwa khalifah Umar lebih mahir
dari beliau dalam berpolitik, meskipun Amirul Mukminin lebih alim dari Umar bin Khattab. Al-Rais Abu Ali Sina telah menjelaskan hal itu dalam kitab beliau, al-Syifa, seputar masalah kebijaksanaan. Dan syaikh kami, Abul Husain juga memiliki kecenderungan yang sama, sebagaimana disinggung dalam kitab al-Gharar. Adapun musuh-musuh serta pihak yang membenci beliau (Imam Ali) beranggapan bahwa Mu’awiyah lebih mahir berpolitik dan lebih baik kemampuannya dalam menata negara ketimbang beliau. Ketahuilah bahwa politikus tak akan mampu berpolitik dengan sempurna kecuali dengan mempertahankan pandangan-pandangan pribadinya, dengan melihat pada kebaikan bagi kekuasaannya dan mengokohkan kepemimpinannya. Tidak peduli apakah itu sesuai dengan syariat ataupun tidak. Kapan saja mereka tidak berpolitik sesuai dengan apa yang telah kami katakan, niscaya itu akan jauh sekali untuk mencapai tatanan yang baik dan terbentuknya pemerintahan yang kredibel. Sedangkan Amirul Mukminin menerima dengan kepemimpinan syariat, bertahan untuk selalu mengikutinya, dan menolak setiap pandangan tentang maslahat peperangan, tipu daya, dan tertib ketatanegaraan apabila tidak sesuai dengan syariat.”[1]
Berjalan dalam tuntunan agama jelas menjadi harapan dan permintaan setiap mukminin kepada Allah Swt, yang senantiasa diungkapkan dalam shalatnya, “Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus” (al-Fâtihah: 5). Barangkali demikianlah maksud dari bersiasat terhadap diri sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat. Yaitu, selalu menjaga agar tetap berjalan dalam ridha Allah Swt dan rasul-Nya. Siapapun tak akan pernah mampu menghantarkan umat pada kebaikan dan kesempurnaan sebelum mereka sendiri mencapainya. Dan tidaklah seseorang mengenali hakikat politik sebelum dirinya berpolitik terhadap dirinya sendiri.
Imam Ja’far al-Shadiq berkata, “Siapa berpolitik (membina) bagi dirinya akan mengenali politik.” Dalam kesempatan lain, beliau juga berkata, “Politik agama adalah dengan kesederhanaan dan keyakinan yang baik.”
Demikian pula dengan Imam Husain dalam maklumat revolusinya, “Aku mencintai kebaikan dan menentang keburukan.” Dengan itu, beliau menyerukan bahwa dirinya selalu berada dalam posisi taslim terhadap kebenaran serta bersikap bari’ dari setiap kejahatan, “Dan orang sepertiku dak akan pernah berbai’at kepada Yazid.” Oleh karenaya, politikus sejati selalu menjadi model dan panutan umat manusia sepanjang zaman. “Terbunuhnya puteraku, al-Husain, merupakan bara bagi yang abadi dalam hati setiap manusia.” Dan misi yang dijalankan adalah misi kemanusiaan. “Maka celakalah umat ini dengan memiliki pemimipin seperti Yazid.”
Sa-asatul ‘ibâd, demikian Islam menyebutnya. Maknanya adalah, bangkitnya seseorang demi membangun masayarakat berpolitik; yang cenderung pada kebenaran dan kebaikan serta menolak setiap keburukan dan kejahatan. Kalian adalah umat pertengahan. Memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar.(Âli Imrân: 110)
Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Fase Perjalanan Politik
Dalam dunia sufi, para salik mengenal adanya dua belas fase perjalanan manusia menuju tingkat kesempurnaan. Setiap fase menjadi tangga perjalanan untuk mencapai porsi kesempurnaan pada tahap selanjutnya. Dan seluruh fase bergerak menuju titik lebur dan fana dengan kebenaran. Dalam pembahasan ini, saya ingin membicarakan tujuh fase saja, di mana masing-masingnya adalah sebagai berikut.
Pertama, Islam (kecil). Fase ini merupakan titik kesempurnaan di mana manusia telah menciptakan garis demarkasi yang memisahkan dirinya dari orang-orang yang menyekutukan Allah Swt dan menolak kenabian Muhammad saww. Tidaklah aku menyembah apa yang kalian sembah.(al-Kâfirûn: 2) Pada fase ini, manusia telah mampu menentukan sikap bagaimana dan kepada siapa seharusnya berpihak. Fase ini dilalui dengan cara mengikrarkan dua kalimat syahadat secara lisan.
Kedua, iman (kecil). Yaitu fase di mana hati manusia telah terikat kepada yang telah diikrarkannya secara lisan. Pada fase ini, manusia telah menarik garis demarkasi yang sangat tegas dengan para pengkhianat (munafikin). Tentu saja, mensterilkan barisan pada tingkat fase ini jauh lebih sulit dibanding pada fase yang pertama. Sebab, permasalahan yang ada dalam fase ini bukan lagi tergantung pada sesuatu yang dapat dihindari. Allah Swt dalam al-Quran memfirmankan: Dan dari penduduk Madinah adalah orang-orang yang sangat kuat kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahuinya dan Kami mengetahui.(al-Taubah: 101)
Ketiga, Islam (besar). Fase ini telah menempatkan manusia pada ketundukkan terhadap sekuruh aturan yang bersumber dari Allah Swt dan rasul-Nya. Secara dhahir (lahiriah), mereka melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan Allah Swt dan rasul-Nya. Sehinggga secara lahiriah seluruh yang diperjuangkannya tidak lagi bermuara pada kepentingannya, keakuannya (ananiyah), atau maksud-maksud kepentingan pemerintahannya. Melainkan bermuara semata-mata pada ketundukannya kepada kebenaran, keindahan, dan kesempurnaan mutlak Allah Swt. Allah Swt berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam seutuhnya.(al-Baqarah: 208)
Keempat, iman (besar). Fase ini membebaskan manusia dari sikap menipu dan berpura-pura. Pada fase ini, hati dan jiwa manusia benar-benar tunduk di hadapan kesempurnaan perintah Allah Swt dan rasul-Nya. Selain itu, fase ini akan menjadikan mereka benar-benar sebagai kelompok orang-orang yang benar, yakni kelompoknya Rasulullah saww. Muhammad adalah rasul Allah dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir dan mengasihi sesama mereka.(al-Fath: 29) Perintah pada fase ini, disebutkan dalam al-Quran: Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya….(al-Nisâ’: 136)
Orang bijak bukan hanya mengatakan apa yang dianggapnya baik. Namun, ia juga memperhatikan bagaimana dan kepada siapa itu harus disampaikannya. Orang bijak selalu memperhitungkan dampak dari setiap ucapan dan tindakannya. Bersabda Rasulullah saww, “Tidaklah semua perkara yang diketahui harus disampaikan.”
Perlu diketahui bahwa perbuatan adalah wujud ‘aradh (aksiden) pada selainnya. Dan untuk eksis, setiap wujud ‘aradh selalu bertempat pada selainnya, sehingga baik dan buruk, benar dan salah, juga tidak terpisah dari jauhar (substansi). Dengan ibarat yang lebih mudah, dapat dikatakan bahwa benar dan salahnya suatu perbuatan mustahil dipisahkan dari orang yang berbuat. Tentu saja selama nisbat tersebut dapat disandarkan padanya.
Dalam hal ini, terdapat kasus yang bersifat khusus, yaitu berkenaan dengan adanya penisbatan abadi yang telah ditempatkan bagi si pelaku. Seperti perbuatan jahat dan salah yang tidak terpisah dari setan. Atau perbuatan shalih dan baik yang tidak akan terpisah dari orang-orang yang yang disucikan Allah Swt.
Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman: Sesungguhnya Allah ber-iradah untuk menghilangkan dari kotoran, wahai Ahlilbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.(al-Ahzab: 33)
Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian dua tsaqal: Kitabullah dan Ahlul Baitku. Apabila kalian berpegang kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat setelahku selamanya.”
Beliau saww juga bersabda tentang kebenaran Ahlul Bait beliau, seperti, “Ali bersama al-Quran dan al-Quran bersama Ali, keduanya selalu bersama.” Atau, “Puteriku, Fathimah, adalah penghulu wanita ahli surga.” Atau, “Puteraku al-Hasan dan al-Husain adalah penghulu pemuda ahli surga.”
Dengan mengenali kebenaran hakiki, yaitu Allah Swt dengan keputusan-keputusan-Nya, manusia akan dituntun untuk mengenali kebenaran lewat orang-orang yang diakui kebenarannya oleh Allah Swt dan rasul-Nya.
Rasulullah saww bersabda, “Wahai Ali! Tidaklah seseorang akan mencintaimu kecuali ia adalah mukmin, dan tidaklah seseorang akan membencimu kecuali ia munafik.” Atau sabda beliau tentang puteranya, “Fathimah adalah belahan diriku. Barangsiapa menjadikannya marah maka aku marah kepadanya, dan barangsiapa menjadikan diriku marah maka Allah marah kepadanya.”
Imam Husain dan Karbala
Karbala. Nama ini selalu diingat sejak kelahiran Imam Husain, dengan datangnya Jibril as membawa segumpal tanah merah dan berita duka atas syahidnya beliau. Maka kapan saja disebut nama Karbala, seluruh cerita duka akan tergambar pada raut wajah para pencinta Ahlul Bait Nabi saww. Ketika disebut nama al-Husain, tergores kembali kepiluan luka sejarah pembantaian keluarganya di bumi Karbala.
Tangisan merupakan ungkapan jiwa dan perasaan dalam diri manusia. Dengan menangis, manusia sebenarnya ingin mengambarkan adanya hubungan dirinya dengan sesuatu peristiwa atau seseorang. Demikian pula dengan tawa yang mencerminkan situasi jiwa dan perasaan seseorang. Dalam doa Ziarah Asyura disebutkan, “Wahai Aba Abdillah, sedemikian agungnya terasa (kesedihan ini) bagi kami dan kaum muslimin atas musibah yang telah menimpamu.” Juga disebutkan, “Dan ini adalah hari bergembiranya keluarga Ziyad dan keluarga Marwan dengan dibunuhnya al-Husain, shalawat Allah atasnya.” Karenanya, kesedihan dan kegembiraan merupakan keadaan jiwa manusia yang tidak kuasa untuk menolaknya.
Peristiwa ini diakui setiap manusia. Siapapun yang datang ke pesta perkawinan, tentu akan menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan keluarganya. Begitu pula dalam sebuah majelis duka. Ucapan bela sungkawa niscaya akan mengalir.
Persoalannya, apakah manusia mersakan adanya jalinan hubungan dengan suatu peristiwa yang menggembirakan atau menyedihkan? Atau merasakan hubungan dirinya dengan kesedihan atau kegembiraan seseorang? Apabila tidak, boleh jadi tangis dari orang yang tengah berduka akan menjadi hiburan dan nampak menggelikan baginya.
Islam dan Imam Husain
Imam Husain adalah putera Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, saudara, anak angkat, dan menantu Rasulullah saww, sekaligus sebagai orang pertama yang menerima Islam, yang wajahnya dimuliakan Allah Swt lantaran tidak pernah bersujud kecuali hanya kepada-Nya, serta insan yang paling paham tentang Islam setelah Rasulullah saww, sebagaimana sabda Rasulullah, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.” Ibunda beliau adalah Fathimah al-Zahra, puteri Rasulullah saww, yang sejak kecil menemani dan merawat ayahandanya dalam perjuangan, yang lantas disebut ayahnya sebagai ummu abiha (ibu dari ayahnya), yang kegembiraannya bersama dengan kebenaran dan kemarahannya menyertai kekufuran, sebagaimana sabda Rasul saww, “Murkanya (Fathimah) adalah murka-ku dan murka-ku adalah murka Allah.”
Al-Husain merupakan salah seorang dari ashab al-kisa’, yang dibersihkan Allah Swt dari segala jenis kotoran dan telah disucikan sesuci-sucinya (sebagaimana tercantum dalam al-Quran, al-Ahzab: 33) Beliau adalah salah seorang yang dipuji dalam ayat mubahalah, yang bersama kakeknya, Rasulullah saww, serta ayah, ibu, dan saudaranya bermubahalah dengan pendeta Nasrani. Beliau dan keluarganya dipuji dalam surat al-Insân (6-9), lantaran menolong kaum fakir, miskin, dan tawanan karena Allah, meskipun mereka sendiri saat itu sedang amat membutuhkan.
Al-Husain adalah Ahlul Bait dan Qurba Nabi saww yang Allah dalam al-Quran (al-Syûra: 42) mewajibkan umat Muhammad saww mencintainya. Beliaulah salah satu Ahlul Bait yang setiap muslim diwajibkan Allah untuk bershalawat kepadanya.
Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Wahai Ahlul Bait Rasulullah saww, mencintai kalian adalah kewajiban yang diturunkan Allah dalam Quran-Nya. Cukuplah bukti yang membanggakan bagi kalian bahwa yang tidak bershalawat dalam shalatnya, tidaklah ia itu menunaikan shalat.”
Imam Husain merupakan sosok yang tak dapat dipisahkan dari Islam. Setiap muslim berhubungan erat dengannya dan setiap yang memiliki hubungan kasih dengannya terikat erat dalam Islam.
Akhirnya, yang tersisa adalah pertanyaan yang harus dijawab. Bilamana Anda berduka? Dan wajibkah Anda berduka bagi al-Husain? Salam bagimu, wahai putera Rasulullah![]
[1] Ibn Abil Hadid, “Syarh Nahjul Balaghah”, jilid 10, hal. 212.
Kutipan Pesan Imam Khomeini Kepada Paus Paulus II Melalui Utusan Paus
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang
……….
Saya beritahukan kepada semua orang bahwa kami tidak takut terhadap aksi militer dan blokade ekonomi, karena kami adalah pengikut para Imam (Ahlul Bait) yang selalu siap untuk mati syahid. Bahkan hari inipun rakyat kami telah siap untuk mati syahid. Silakan bila Carter akan mengirimkan pasukannya kemari—walaupun ia tak akan mampu melakukannya—atau bahkan menggalang kekuatan militer dengan
negara superpower lainnya. Kami memiliki 35 juta orang yang telah terbiasa ke medan perang dan siap untuk syahid. Kami tidak takut dengan intervensi militer. Kami adalah pejuang. Rakyat kami telah melawan tank, meriam, dan senjata mesin dengan tangan kosong. Karenanya, Carter jangan coba-coba untuk mengancam kami. Kami telah terbiasa bertempur; bahkan ketika kami kehabisan senjata, kami gunakan tubuh kami.
Dan atas ancaman blokade ekonomi, kami adalah orang yang terbiasa lapar. Kami telah menderita kelaparan selama 35 atau 50 tahun. Bila diasumsikan bahwa Amerika bisa menjatuhkan blokade ekonomi dengan mengajak negara lain—yang mana itu hanyalah mimpi kosong, yang tidak akan pernah terjadi—maka kami dapat selalu berpuasa, atau memenuhi kebutuhan kami dengan gandum dan jagung yang kami panen dari ladang kami sendiri; yang itu cukup bagi kami. Kami bisa makan daging sekali seminggu, dan kenyataannya tak baik terlalu banyak makan daging. Jika perlu, kami bisa membatasi diri dengan makan hanya sekali sehari. Karena itu, mereka jangan coba-coba untuk mengancam kami dengan blokade ekonomi.
Jika kami dihadapkan pada pilihan mempertahankan kehormatan kami atau mengisi perut kami, maka kami jelas akan memilih lapar dan mempertahankan kehormatan kami.
Tolong sampaikan salam saya untuk Paus, dan katakan kepadanya bahwa beliau dan saya sebagai pemimpin agama, mempunyai tanggung jawab untuk memberikan bimbingan moral. Kami berharap beliau bisa mengangkat rakyat tertindas kami dengan menasihati semua negara superpower untuk memperhitungkan tindakan-tindakan mereka.
Ruhullah al-Musawi al-Khomeini
12 November 1980
[Diterjemah dari buku “Imam Khomeini, Pope, and Christianity”, hal. 37-38, Islamic Propagation Organization, The International Relations Department]
Surat Paus Paulus II
Yang Mulia
Ayatullah Ruhullah Khomeini
Saya sangat prihatin dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika dengan negara anda. Saya juga menyampaikan sentimen saya ini kepada Yang Mulia Bani Sadr, sebagai presiden Republik Islam Iran; kepada Sekretaris Jendral PBB, DR. Kurt Waldheim; dan kepada Yang Mulia Jimmy Carter, presiden Amerika.
Saya mohon kepada Tuhan, dengan kebaikan dan kemurahan-Nya, semoga Dia melindungi rakyat anda dan mencegah kesulitan dan bahaya yang lebih besar dari meningkatnya ketegangan tersebut. Saya berharap, dengan pengaruh wewenang anda, akan membantu terciptanya solusi bagi situasi serius tersebut, dengan solusi yang adil; yang diilhami oleh penghargaan atas nasib rakyat, dan yang akan bermanfaat bagi kemajuan rakyat dan seluruh manusia dalam keadilan dan perdamaian.
Joannes Paulus PP. II
11 April 1980
Balasan Imam Khomeni Atas Surat Paus Tersebut
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Yang Mulia Paus,
Pesan anda, yang mencerminkan kegelisahan atas memburuknya hubungan antara negara Islam Iran dan Amerika, telah saya terima. Saya menghargai niat baik anda dan perhatian anda atas hal itu; dimana negara kami menganggap bahwa langkah pemutusan hubungan tersebut sebagai pertanda baik, dan negara kami merayakannya dengan kebahagiaan.
Saya berterima kasih atas doa anda kepada Tuhan bagi rakyat pejuang kami, tetapi perlu anda ketahui bahwa anda tidak perlu khawatir atas munculnya masalah dan bahaya yang lebih besar, seperti yang anda sebutkan dalam surat anda. Karena rakyat muslim Iran selalu siap menyambut masalah akibat langkah pemutusan hubungan, dan mereka tidak takut atas munculnya bahaya yang lebih besar.
Yang berbahaya bagi rakyat kami justru ketika hubungan tersebut dibangun sebagaimana yang dilakukan oleh rezim terdahulu, dan hubungan seperti itu tidak akan pernah dibangun kembali.
Saya berharap, dengan pengaruh spiritual anda pada masyarakat Nasrani, anda memperingatkan pemerintah Amerika untuk bertanggungjawab atas tindakan tirani, gangguan, dan perampasan mereka. Dan menasihati Carter, yang sedang mengalami kekalahan, untuk membiarkan negara-negara yang menginginkan kemerdekaan mutlak dan tidak ingin bergabung dengan setiap kekuatan di dunia, sebagaimana nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh Isa as; dan tidak membiarkan dirinya dan pemerintah Amerika berkubang pada skandal yang lebih jauh.
Saya memohon kepada Allah atas kesejahteraan bagi mereka yang tertindas di muka bumi, dan berharap semoga mereka segera terbebas dari tangan-tangan penindas.
Ruhullah al-Musawi al-Khomeini
16 April 1980
[Diterjemah dari buku “Imam Khomeini, Pope, and Christianity”, hal. 18-20, Islamic Propagation Organization, The International Relations Department]
POTRET NYATA ZIONIS ISRAEL YANG ANTI-KEMANUSIAAN
(Oleh: Dede Azwar Nurmansyah)
Kira-kira setahun lalu, sebuah laporan hasil survei di benua Eropa menggegerkan publik internasional. Disebutkan di dalamnya bahwa dibanding negara-negara yang digembar-gemborkan Amerika dan para koleganya sebagai ancaman kehidupan global (yakni Irak, Korea Utara, Iran, dan sebagainya), justru Israel (yang dikelola para Zionis)lah yang dianggap jauh lebih berbahaya dan mengancam oleh mayoritas masyarakat Eropa.
Fakta ini sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum orang-orang Eropa menyadarinya, kaum Muslimin dan rakyat Palestina khususnya bahkan sudah “mengalaminya”. Teror dan kebrutalan yang disebar ke segenap pelosok daerah yang dulunya mereka caplok secara ilegal, Palestina yang malang, terus menderu-deru sampai sekarang. Negeri yang rata-rata penduduknya Muslim itu, kini telah terkoyak, terinjak-injak dan terluka sangat parah. Lihat berita-berita di media massa. Setiap hari, ribuan peluru yang dimuntahkan mesin-mesin pembunuh itu berdesing dan menerjang nyawa sekaligus harapan rakyat sipil. Tanah tandus mereka tak pernah sunyi dari gemuruh roda baja tank-tank dan panser-panser militer yang melindas puing-puing bekas rumah rakyat miskin yang dibuldozer tanpa ampun. Kendaraan maut itu sibuk mencari mangsa yang ingin dilahapnya; lagi-lagi rakyat sipil Palestina yang distempel sebagai “para pengacau perdamaian dan teroris”.
Mengapa Palestina? Bagi Zionis Israel yang merampoknya secara terang-terangan sejak 1948 (dan diamini PBB), kawasan tersebut merupakan bagian dari sejarah asal-usulnya. Dulu, klaim mereka, wilayah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. Karenanya absah bila kemudian mereka “menagihnya” kembali serta mengusir atau membunuhi siapapun yang berusaha menghalang-halangi. Setelah ketahuan bahwa pengakuan historis itu cuma dongeng pengantar tidur, mereka buru-buru melapisinya dengan gincu ideologis; sejarah boleh diragukan, tapi Talmud (kitab suci mereka yang mencantumkan pernyataan itu) tidak.
Secara kultural, ekonomis, dan sosiologis, persoalannya jauh lebih rumit lagi. Terlebih secara politis. Dalam konteks mutakhir, kepentingan politik Zionis Israel kenyataannya bertali-temali dengan kepentingan sejumlah negara. Termasuk kepentingan sebagian negara Arab yang dulu sempat berang dan bekelahi dengannya (dalam laga tahun 1967), tapi sesaat kemudian kalah dan dipecundangi. Yang paling berkepentingan dengan eksistensi Israel di Palestina siapa lagi kalau bukan Amerika Serikat. Minyak adalah incarannya. Penaklukan dan teror maut adalah mediumnya. Zionis Israel akhirnya menjadi representasi dari semuanya. Dalam bayangan AS, tentunya juga orang-orang Yahudi agresor itu, Zionis Israel akan menjadi semacam “negara panoptikon”; negara mercusuar yang mampu mengawasi keadaan sekeliling secara sangat efektif sampai sedetail-detailnya, tapi sekaligus sangat dibutuhkan (sinar lampu suarnya yang sangat terang) oleh negara-negara di sekitarnya (inilah ironi dari ketundukkan sukarela)!
Untuk menjelmakan ambisinya itu, Zionis Israel dengan dukungan penuh AS (dan puddle nya, Inggris) menebar kekerasan sistemik dan sistematik secara kontinyu, seraya terus mengekarkan tubuhnya dengan memborong dan menenggak banyak kapsul vitamin berisi bubuk mesiu (yang disuplai AS). Dan ganjilnya, semua ini dilakukan dengan dalih membela diri! Kalau kita mengukurnya dengan standar kemanusiaan, niscaya kita akan kebingungan. Kejahatan dan kekerasan Zionis itu sungguh telah melampaui akal sehat dan bahkan memustahilkan kita untuk membayangkan batasan dari apa yang disebut human (manusiawi) dan inhuman (tidak manusiawi). Kedua kategori itu benar-benar sudah lumpuh dan tidak berlaku di hadapan tindak kriminal Zionis Israel. Karena itu, tepat kiranya kita menjuluki Zionis Israel dan sekutunya dengan sebutan ”para penjahat anti-kemanusiaan”.
Bisa dibayangkan, korban-korban yang dipasung dan dijagal mereka bukan hanya menderita luka-luka di sekujur tubuhnya. Tapi juga mengalami memar yang cukup dalam pada memori dan akal sehatnya. Di samping bom, pelor, dan mortir terus diledakkan, teror psikologis juga dilancarkan bertubi-tubi dan telah membungkam kemampuan publik untuk menilai dan bersikap peduli terhadap kemalangan yang telah mengubur hidup-hidup bangsa Palestina selama ini. Jadi, Zionis Israel dan konco-konconya adalah para kriminal anti-kemanusiaan bermata dua; fisik dan psikis.
Sebagai ilustrasi tentang kejahatan fisik mereka yang sulit dikunyah akal sehat, Maria Mitsotakis (nama samaran perempuan muda berkewarganegaraan AS dan beragama Kristen yang pernah menyusup ke kamp-kamp pengungsi Palestina di daerah pendudukan di awal 90-an) pernah menceritakan pengalaman langsungnya yang mengerikan di Tepi Barat. Kisah ini pernah diungkapkan dalam buku Palestina, Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru (Pustaka Hidayah, 1992).
“Saya sedang berjalan-jalan di sebuah jalan di Tepi Barat, dekat sebuah gereja, meskipun saya telah diperingatkan orang-orang Palestina di situ bahwa setelah jam 6 sore, tak seorang pun dibolehkan berada di luar rumah, kecuali tentara Israel. Tiba-tiba, saya melihat seorang bocah lelaki Palestina berusia sekitar 12-13 tahun berlari ke jalan raya dan menyemprotkan cat di sebuah tembok untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Arab. Saya diberitahu bahwa bocah ingusan itu mencoba menuliskan kata ‘Palestina’—sebuah kata yang sangat diharamkan tentara pendudukan Israel. Belum sempat ia menyelesaikan tulisannya, muncullah dari semua arah tentara-tentara Israel bersenjata lengkap. Lalu terjadilah pengejaran terhadap bocah kecil itu yang lari lincah bak seekor kijang. Malang baginya, ia terkepung. Bocah itu pun mengangkat tangan dan menyerah kepada para serdadu dingin itu. Tubuhnya terlihat gemetaran lantaran ketakutan yang sangat tentang nasib apa yang bakal menimpanya. Serdadu-serdadu itu berteriak dalam bahas Ibrani dan Arab kepadanya.”
“Salah seorang serdadu lalu mendekati bocah itu, mengatakan sesuatu kepada teman-temannya dengan suara keras, dan seketika itu pula, dengan dingin, menembak kepala bocah itu dua kali. Tak ayal, bocah tak berdaya itu pun rubuh dengan darah mengucur di kepalanya. Terdengar ia melolong kesakitan seperti binatang yang sedang terluka. Kemudian beberapa serdadu dengan buas mulai memukulinya dengan pentungan dan tinju secara bergiliran, sampai bocah itu jatuh pingsan. Tak hanya sampai di situ. Setelah siuman, ia dipaksa kembali berdiri dan menerima bertubi-tubi pukulan berbobot kemarahan dan kebencian luar biasa besar. Bocah itu lagi-lagi jatuh tersungkur, terkapar, pingsan, dan sekarat. Tubuh mungil itu teronggok tidak bergerak untuk jangka waktu cukup lama. Ambulans tak kunjung datang, padahal sudah hampir satu jam berlalu. Serdadu-serdadu Zionis itu punya kebijakan; tidak mengizinkan orang Palestina yang terluka dibawa ke rumah sakit pada waktunya dengan harapan agar dia mati kehabisan darah.”
“Saya berdiri di sana, hanya beberapa meter jauhnya dari tempat kejadian, bersembunyi di balik sebuah bangunan, dengan panik, sedih, takut, perasaan campur aduk, dan tangisan tertahan. Seorang serdadu Zionis memergoki saya. Dia langsung menggeledah saya. Karena takut dia akan membunuh saya hanya karena saya telah menyaksikan suatu kejahatan yang sangat mengerikan itu, saya memberanikan diri berbicara, ‘Saya orang Amerika...’ ‘Kamu Amerika bondon (maksudnya, pelacur dan sampah),’ jawab serdadu itu dalam bahasa Inggris dengan aksen kuat dan penuh kebencian. ‘Cuma bondon saja yang merasa kasihan pada orang Palestina!’ Keesokan harinya, saya mendengar kabar angin dari penduduk setempat bahwa sebelum ambulans datang, serdadu-serdadu itu menyeret bocah malang tersebut dengan memegang kakinya berkeliling di jalan-jalan untuk menakut-nakuti penduduk dan memberi pelajaran kepada mereka.”
Inilah secuplik kisah, di antara ribuan kisah serupa lainnya yang lebih seram, yang telah menyatu dengan denyut nadi bangsa Palestina. Betapa langkanya “manusia biadab” seperti itu. Sementara dunia sekarang sedang meributkan masalah kekerasan terhadap anak, para kriminal itu malah memperlakukan anak-anak tak ubahnya samsak untuk berlatih tinju. Terhadap anak-anak saja mereka begitu dingin dan kejam, bagaimana kalau “oknum” itu orang dewasa (ingat kasus Rachel Maryam, warga AS yang jadi voluntir organisasi Perisai Manusia, yang belum lama ini digilas buldozer hingga tewas mengenaskan di wilayah pendudukan hanya karena “kejahatannya” menghalangi-halangi proses penghancuran rumah penduduk sipil Palestina).
Sebagaimana pernah diberitakan media massa, untuk membunuh seorang pemimpin perlawanan rakyat Palestina yang lumpuh saja (tapi gagal), Zionis Israel sampai mengerahkan pesawat tempur canggihnya dan menjatuhkan ribuan bom. Atau kisah pemimpin besar Hizbullah (sebuah faksi di Lebanon yang berasaskan Islam dan selalu paling depan dalam melawan Zionis, sekarang dipimpin ulama kharismatik, Sayid Hasan Nasrallah) waktu itu, Sayid Abbas Musavi yang beberapa tahun silam dibunuh dengan rudal(!) sewaktu hendak menguburkan putranya yang gugur di tangan Zionis. Tak tanggung-tanggung, misi pembunuhannya didukung sejumlah helikopter tempur canggih yang disuplai Amerika!
Kebiadaban yang dipraktikkan Zionis Israel, selain dipandang sebagai penjagalan (paling tragis sepanjang sejarah) terhadap bangsa Palestina yang juga manusia, juga dipandang sebagai pembunuhan karakter! Bangsa Palestina dicitrakan sedemikian rupa, seakan-akan mereka bangsa primitif yang miskin dan suka mengacau, bangsa teroris, yang tidak patut dikasihani. Sebaliknya, dalih-dalih yang mereka kemukakan dalam hal ini, seolah-olah menunjukkan bahwa mereka justru menjadi korban terorisme bangsa Palestina. Di sinilah mereka diam-diam menerapkan kejahatan psikisnya. Kalau pembunuhan fisik hanya berskala personal, pembunuhan karakter justru berskala massal, nasional, bahkan global, serta tidak terasa perih sebagaimana halnya fisik. Sebab, itu berkaitan erat dengan jaringan memori kolektif bangsa-bangsa di dunia, bukan hanya Muslim, yang dijadikan target bidikan. Sasaran mereka paling tidak, pada awalnya, masyarakat internasional hanya mampu bersuara tapi tak mampu berbuat. Dan ujung-ujungnya, mereka menjadi imun terhadap raungan dan ratap tangis bangsa Palestina, lalu bungkam dan bersikap apatis—kalau bukan malah mengamini dan menganggap wajar!
Kenyataan suram dan kompleks ini harus segera diakhiri. Persoalan yang merundung bangsa Palestina bukan cuma persoalan agama tertentu (sekalipun Islam yang paling lantang bersuara dan berbuat selama ini). Tapi juga persoalan kemanusiaan lintas batas mazhab, agama, bangsa, negara, budaya, dan sebagainya. Zionis Israel adalah jelmaan keangkuhan dan kezaliman Amerika Serikat (juga elite-elite Yahudi Zionis sejak David Ben Gurion menanam benih Negara Haram Israel pada awal abad XX) yang terus berbuat sewenang-wenang tanpa protes yang berarti dan berkelanjutan.
Isu kebiadaban Zionis Israel pada dasarnya berkaitan erat dengan ketulusan dan kemauan kita untuk kembali menegakkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan moralitas yang kini sudah tercabik-cabik dan dijungkirbalik. Siapapun yang mengaku nuraninya masih bening, terlebih mereka yang mengklaim dirinya bagian dari komunitas dan sejarah Islam, tak ada waktu lagi untuk berdiam diri. Cita-cita untuk membangun pusat-pusat dan kantong-kantong perlawanan dan solidaritas di mana-mana kiranya sudah terlalu lama menggantung di langit harapan; sementara kebiadaban sistemik dan sistematis Zionis kian melampaui kenyataan kongkret dan telah merasuki jiwa kita semua. Kalau mau merenung barang sejenak saja, kita akan sadar bahwa ternyata virus-virus Zionisme telah tertanam kuat jauh di lubuk hati kita dan telah bersemi sehingga melumpuhkan syaraf-syaraf keberanian, kepedulian, martabat, dan kritisisme kita terhadap ilegalitas eksistensi sekaligus kebrutalan yang dipraktikkan Zionis Israel. Bom waktu Zionis itu telah meledak dalam diri kita...!
Selain membangun benteng-benteng subversif terhadap kekuatan Zionis Israel yang merupakan strategi jangka panjang, perlu kiranya digelar dan ditradisikan aksi unjuk rasa yang kontinyu dan simultan. Strategi jangka pendek ini dimaksudkan untuk terus menerus mengetuk pintu nurani masyarakat sekaligus mengabarkan kemarahan kaum Muslimin tentang betapa kurang ajarnya Zionis Israel dalam memperlakukan tempat-tempat suci umat Islam di sana. Atu paling tidak, aksi unjuk rasa itu hanya dimaksudkan untuk mengutarakan, “Kami masih sadar dan ada di sini. Tunggulah saatnya kami akan mendatangi dan mengenyahkan kalian, wahai para kriminal anti-agama dan anti-kemanusiaan!”
Demonstrasi demi pembebasan al-Quds yang rutin digelar setiap tahun pada Jumat terakhir bukan Ramadhan (dan dinamakan yaum al-Quds atau hari al-Quds), salah satunya, kiranya ingin berbuat seperti itu. Spirit yang dikandungnya tetap sama dan konsisten; membebaskan masjid al-Quds (di wilayah pendudukan Zionis) yang merupakan simbol dan jantung kebesaran umat Islam, sekaligus simpul awal pembebasan seluruh bangsa Palestina dan umat manusia dari cengkeraman gurita Zionisme. Wallâhu a’lam